Senin, 04 Mei 2020

Jejak Panjang Nan Sarunai, Kerajaan Purba di Kalimantan


datok99 - Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan disebut-sebut sudah berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan selama ribuan tahun sebelum ditaklukkan Majapahit.
Di bumi Borneo, Kerajaan Kutai Martadipura muncul pada abad ke-4 Masehi dan selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Namun, jauh sebelumnya, di belahan lain Pulau Kalimantan, ada kerajaan yang ternyata jauh lebih tua. Namanya Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan sudah berdiri sedari zaman purba alias prasejarah.  Agen Situs QQ 

Nan Sarunai didirikan orang-orang Dayak Maanyan, salah satu sub suku Dayak tertua di Nusantara, khususnya di Kalimantan bagian tengah dan selatan. Apakah Nan Sarunai sudah layak disebut kerajaan atau belum memang masih menjadi perdebatan. Namun, yang jelas, pemerintahan di Nan Sarunai berlangsung sangat lama.
Eksistensi Kerajaan Nan Sarunai baru berakhir setelah datang pasukan Majapahit dari Jawa pada pertengahan abad ke-14 M. Nan Sarunai diruntuhkan, orang-orang Dayak Maanyan tercerai-berai. Namun, nantinya kerajaan ini menjadi embrio terbentuknya entitas masyarakat Kalimantan Selatan, cikal-bakal Kesultanan Banjar. 

Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang.
Salah satu jejak arkeologis yang digunakan untuk melacak keberadaan Nan Sarunai adalah ditemukannya bangunan candi kuno di Amuntai. Candi ini dikenal dengan nama Candi Agung, yang dipercaya menjadi salah satu simbol eksisnya peradaban orang-orang Dayak Maanyan di masa silam. 


Penelitian Vida Pervaya Rusianti Kusmartono dan Harry Widianto berjudul “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan” yang dimuat dalam jurnal Berita Penelitan Arkeologi edisi Februari 1998 menyebutkan, pengujian terhadap candi tersebut telah dilakukan pada 1996.
Hasilnya mengejutkan. Pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai itu menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (hlm. 19-20). Apabila benar demikian, maka Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai Martadipura yang berdiri pada abad ke-4 Masehi.

Dalam perkembangannya, Nan Sarunai dikenal pula dengan beberapa nama lain, seperti Kuripan, Tabalong, hingga Tanjungpuri.
Khusus Tanjungpuri, ada perbedaan pendapat di kalangan peneliti bahwa nama ini bukanlah kerajaan yang sama dengan Nan Sarunai. Menurut Suriansyah Ideham dkk., dalam Urang Banjar dan Kebudayaannya (2007), Tanjungpuri diyakini didirikan orang-orang Melayu Sumatera yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya (hlm. 17).

Tanjungpuri dan Nan Sarunai diyakini dua entitas berbeda, tapi pernah berada dalam lingkup ruang dan waktu yang berdekatan. Keduanya sama-sama menempatkan pusat pemerintahannya di tepi anak Sungai Barito, termasuk Sungai Tabalong. 
Kedatangan orang-orang Melayu dari Sumatera ke Borneo itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 M, menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Sebagian pelarian itu lalu mendirikan komunitas yang kemudian berkembang menjadi suatu pemerintahan serta hidup berdampingan dengan orang-orang Dayak Maanyan yang bernaung di bawah Kerajaan Nan Sarunai.

Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar (1997) mendukung kemungkinan tersebut. Menurutnya, penduduk sebagian wilayah Kalimantan Selatan berintikan orang-orang asal Sumatera, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan kemudian bercampur dengan orang-orang Dayak Maanyan. 

Salah satu rujukan lain untuk menelisik eksistensi Kerajaan Nan Sarunai adalah Hikayat Banjar. Jejak peradaban lama di Nusantara memang kerap dilacak melalui historiografi tradisional, seperti hikayat atau babad. Historiografi tradisional, menurut Sartono Kartodirdjo dalam Historiografi Tradisional, Model, Fungsi, dan Strukturnya (1993), punya ciri-ciri menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (hlm. 7).

Johannes Jacobus Ras dalam Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography (1968) membagi Hikayat Banjar dalam dua ragam, yakni versi Kerajaan Negara Dipa yang beragama Hindu dan versi yang disusun pada era Kesultanan Banjar yang telah memeluk Islam (hlm. 238). Nan Sarunai adalah pemula dari dua kerajaan yang kemudian membentuk entitas orang-orang Kalimantan Selatan itu.
Hanya saja, Hikayat Banjar, yang ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman, tidak terlalu banyak mengulik tentang Kerajaan Nan Sarunai. Pembahasan terutama pada masa menjelang keruntuhannya. 

Bab terkait Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian (wadian) yang ditransmisikan secara turun temurun. Dalam Struktur Birokrasi dan Sirkulasi Elite di Kerajaan Banjar pada Abad XIX (1994), M.Z. Arifin Anis menegaskan, Tradisi lisan Dayak Maanyan ini membawa kisah jika mereka sudah memiliki “negara suku” bernama Nan Sarunai
Boleh jadi istilah “negara suku” lebih tepat untuk menyebut tata pemerintahan di Nan Sarunai daripada istilah "kerajaan", karena keberadaan peradaban orang-orang Dayak Maanyan ini terkesan “tidak diakui” sebagai kerajaan tertua di Nusantara. 

Alfani Daud (1997) memperkirakan bahwa terbentuknya pemerintahan Nan Sarunai pada masa prasejarah bermula dari bergabungnya beberapa komunitas adat Dayak Maanyan yang dipersatukan dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih luas (hlm. 2).
Hal ini didukung oleh Suriansyah Ideham dkk., (2003) yang menyebutkan bahwa ketika penataan organisasi dalam pemerintahan gabungan itu bisa dijalankan—meskipun masih sangat sederhana—terbentuklah sebuah negara suku yang dikenal sebagai Kerajaan Nan Sarunai.

Ditilik dari waktunya, pengelolaan “negara” di Nan Sarunai pada masa awal masih sangat sederhana, sehingga struktur pemerintahnya pun agak sulit ditemukan. Kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan berada di tangan seorang “raja” yang memiliki kewenangan untuk mewariskan kekuasaannya (hlm. 16-17). 
Kendati begitu, eksistensi Nan Sarunai sebagai “negara suku” atau “kerajaan tradisional” mampu bertahan hingga ribuan tahun. Nan Sarunai dianggap sudah tidak lagi menganut konsep pemerintahan “primitif” pada awal abad ke-12 M saat dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar yang bertakhta sejak 1309.

Sepeninggal Raden Japutra Layar, roda pemerintahan di Kerajaan Nan Sarunai secara berturut-turut dilanjutkan oleh Raden Neno (1329-1349) kemudian Raden Anyan (1349-1358). Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai.
Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai mulai terjadi pada masa-masa akhir pemerintahan Raden Anyan. Riset Sutopo Urip Bae yang dirujuk Abdul Rachman Patji dalam Etnisitas & Pandangan Hidup Komunitas Sukubangsa di Indonesia: Bunga Rampai Kedua Studi Etnisitas di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan (2010) menyebut bahwa kerajaan ini pernah diserang Majapahit pada 1358 (hlm. 58). 

Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Oleh para seniman lokal, tragedi runtuhnya Nan Sarunai ini diungkapkan dalam puisi ratapan atau wadian dalam bahasa Maanyan yang disebut peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Fridolin Ukur, Tanya Jawab Tentang Suku Dayak, 1977: 46).
Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu. Nantinya, Negara Dipa pun menuai keruntuhan dan pada akhirnya, sejak 1520, digantikan Kesultanan Banjar yang sudah memeluk Islam.

Anak Sima, Hantu Bayi Pemakan Jantung di Kalimantan


datok99 - Kisah legenda yang berbau mistis sudah tak jarang lagi ditemui dari berbagai daerah Indonesia, menengok sedikit ke daerah kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Banjar. Kabupaten Banjar memang dikenal sebagai daerah yang sangat kental dengan budaya dan adatnya. Masyarakat daerah ini pun masih percaya dengan kisah-kisah yang diturunkan dari para leluhur seperti kisah legenda anak sima yang mengerikan. Agen Situs QQ 

Kisah anak sima adalah salah satu kisah legendaris yang sampai sekarang ini masih cukup dipercaya oleh masyarakat Banjar. Menurut kisah yang dipercayai oleh masyarakat, anak sima adalah makhluk setengah manusia dan setengah gaib yang menyeramkan, pasalnya sosok ini dipercaya sebagai makhluk jadi-jadian yang sangat suka memakan jantung manusia. 


Kisah anak sima konon berawal ratusan tahun lalu, berawal ketika seorang wanita yang sengaja membuang anaknya ke dalam hutan demi menutupi malu karena anak tersebut adalah anak hasil hubungan gelap. Anak yang seharusnya meninggal karena kedinginan dan kepalaran tersebut justru dipelihara oleh siluman takau yang dipercaya sebagai sosok makhluk gaib terkuat di tanah Banjar yang kemudian dinamakan anak sima.

Menurut legenda, hantu legenda takau sangat menyayangi anak sima, bahkan konon ia akan melakukan apa saja untuk melindungi anak sima dan menuruti semua keinginannya hingga akhirnya ia mewariskan sebagian kekuatannya pada anak sima. Demi memaksimalkan kekuatannya anak sima konon diberi makan jantung manusia karena kebiasaan tersebutlah kemudian anak sima selalu menginginkan jantung manusia yang masih hidup sebagai makanannya. 

Konon anak sima awalnya sering muncul di dalam hutan dan menjerat korbannya dengan menangis sebelum akhirnya memakan jantung korban dari bagian punggung. Konon dulu ada seorang wanita tua yang menjadi korbannya, kala itu wanita tersebut mencari kayu bakar ke dalam hutan tiba-tiba dikejutkan dengan suara tangisan anak bayi. Karena sifat alaminya wanita tersebut lalu mencari sumber suara dan betapa kagetnya ia menemukan seorang bayi dengan kondisi yang memprihatinkan. Karena takut awalnya wanita tersebut tidak berani mendekat tapi saat anak sima memanggilnya, si wanita pun luluh dan akhirnya menggendong anak sima.

Kemudian wanita tua tersebut membawa anak sima pulang ke rumahnya untuk dirawat dan dijadikan anak. Namun dalam perjalanan keanehan pun kemudian terjadi, semakin lama punggung wanita tersebut terasa berat dan juga terasa basah dan perih dari bagian punggungnya. Hal yang mengejutkan ketika ia menengok ke belakang dan melihat anak yang ia gendong memakan dagingnya sedikit demi sedikit hingga berlubang dan akhirnya bayi itu menarik paksa jantungnya.

Konon sejak saat itu anak sima mulai banyak menjerat orang-orang yang berani masuk ke dalam hutan untuk dimakan jantungnya. Bahkan sampai sekarang menurut kisah masyarakat Banjar, suara tangisan anak sima konon sudah mulai sering terdengar di luar rumah-rumah warga. 

Minggu, 03 Mei 2020

Misteri Manusia Berekor di Kalimantan yang Belum Terpecahkan


datok99 - Kalimantan selama ini identik dengan Suku Dayak. Suku Dayak sendiri terdiri atas ratusan suku. Ada sumber yang mengatakan Dayak Kalimantan terdiri atas lebih kurang 450 suku yang kecil-kecil.  Agen Situs QQ

Tetapi, anehnya di pedalaman Kalimantan, kata sebagian orang ada penghuni bukan Dayak, siapa mereka? Menurut kisah, di sana ada suku yang memiliki ekor atau disebut orang Boentoet atau suku Boentoet. 
Sama seperti namanya, Orang Boentoet merupakan ras manusia yang berekor. Mereka dulu menghuni pemukan Kesultanan Pasir dan Tepian Sungai Teweh, pedalaman Kalimantan. Penemuan Orang Boentoet awal kali dilihat oleh seorang abdi bernama Tjiropon yang juga orang kepercayaan Sultan Aji Muhannad Sulaiman.


Tjiropon melihat sosok manusia dengan ekor dan mampu mendeskripsikannya di depan sang sultan dan para pangeran serta Carl Bock, seorang penjelajah dan peneliti berkebangsaan Norwegia.
Ia berkata kepala suku manusia berekor penampilannya luar biasa, matanya berwarna putih, memiliki ekor sekira lima hingga 10 sentimeter. Tidak hanya itu, Suku Boentoet juga harus melubangi lantai rumah mereka agar bisa duduk dengan nyaman.

Penampilan fisik Orang Boentoet sangat berbeda dari suku-suku yang ada di Indonesia pastinya. Mereka memiliki raut muka yang sangar, kulit cokelat, dan mata yang tajam. Orang Boentoet juga jadi salah satu suku yang misterius bagi masyarakat Indonesia dan peneliti peradaban dunia. 
Pasalnya, dari banyak kabar yang beredar, Orang Boentoet merupakan jenis manusia kanibal, ada pula yang mengatakan hanya orang berkemampuan khusus saja yang dapat melihat Orang Boentoet, dan kekeliruan lainnya yang ditemui oleh Carl Bock selama pencarian dan penelitian Orang Boentoet

Hingga kini, belum ada kabar terbaru lagi perihal Suku Boentoet yang misterius dan unik itu. Semoga di manapun mereka berada, kesejahteraan dan kedamaian mereka selalu dapat dirasakan selalu.
Bahkan, ada yang mengatakan keberadaan mereka ibarat sebuah legenda. Ada juga yang mengatakan manusia berekor ini, bukan terjadi di tanah air indonesia saja, melainkan pernah terjadi juga di Negara Bagian India. 

Ada seorang anak yang lahir dengan tubuh yang beda, melainkan sih anak itu pun memiliki buntut, dan hal hasilnya anak asli dari India itu dipuja sebagai salah satu ingkarnasi Dari Dewa Hanoman yang konon di puja di India.
Pada saat anak itu menginjak remaja, ini telah mengoperasi buntutnya oleh team medis tersebut. Akhirnya,  bocah ini pun  kehilangan gelarnya sebagai ingkarnasi atau Lengkarnasi Dewa Hanoman. 

Menjelajahi Bukit Soeharto, Kawasan Hutan di Kalimantan Timur yang Kerap Meminta Tumbal


datok99 - Bukit Soeharto atau yang memiliki nama lengkap Taman Hutan Raya Bukit Soeharto ini merupakan kawasan pelengkap hutan. Sejatinya, tempat ini digunakan untuk perlindungan pohon dan aneka satwa yang ada di sini dari kepunahan. Namun demikian, bukit Soeharto semakin menambah jumlah area yang dibakar, ditebang pohon, hingga jumlah bangunan semi permanen yang dibangun di lahan seluas 61,850 hektare ini.  Agen Situs QQ 

Bukit Soeharto ditetapkan sebagai kawasan konservasi pada tahun 1991 yang diterbitkan pada masa Pak Harto masih berkuasa. Selanjutnya di tahun 2004, terjadi peraturan hingga akhirnya menyandang julukan Taman Hutan Raya atau tahura. Mari kita isi Bukit Soeharto yang menyimpan banyak kisah menarik dan ngeri termasuk sejumlah tumbal yang dikumpulkan di sana. 

Saat disetujui sebagai Presiden, Pak Harto sangat menghargai Lingkungan. Dia melakukan segala daya dan upaya agar hutan di kawasan Indonesia tidak rusak. Salah satu mandat dari Pak Harto yang jatuh di kawasan bukit yang saat ini menyandang namanya. Saat itu, Pak Harto ikut Menteri Kehutanan membuat kawasan ini menjadi contoh pengelolaan hutan di Indonesia. 


Pak Harto tidak main-main dengan keinginannya itu, terbukti, Ratu Beatrix dari Belanda pun mengagumi hutan yang saat ini keadaannya sangat mengenaskan itu. 80-an, beritanya sampai tersebar ke banyak negara di dunia. Kala itu, situasi hutan di Indonesia benar-benar menjadi percontohan yang menarik banyak negara untuk mempelajarinya. 

Usai pemerintahan dari Pak Harto akhirnya runtuh di tahun 1998, kawasan taman hutan raya ini akhirnya terbengkalai. Beberapa kawasan mulai tidak terbukti lagi rusak karena keadaan alam dan manusia. Beberapa bagian hutan Lebih banyak digunakan oleh Pemkab Kutai Kertanegara untuk digunakan sebagai lokasi tambang batu bara. Mengabaikan dari LSM Lingkungan Hidup di Kalimantan Timur menolak dan merencanakan ini gagal. 

Beberapa bagian hutan di Bukit Soeharto sengaja dibakar oleh warna. Rata-rata mereka adalah pendatang yang ingin mencari peruntungan di sana. Kawasan jalan di bukit ini juga dibangun semi permanen yang juga ikut rusak hutan terus menerus. Mirisnya lagi, pemerintah dua kabupaten yang menjadi tempat Bukit Soeharto tidak melakukan apa-apa. 

Menurut penduduk yang tinggal di sekitar Bukit Soeharto, kawasan ini sangat layak dikunjungi. Lebih banyak penduduk memilih di dalam rumah. Menurut mereka, kawasan ini banyak digunakan untuk membunuh penduduk zaman Jepang menguasai Indonesia. Para romusha yang dipekerjakan di sini dibantai lalu mayatnya dikeluarkan begitu saja di hutan tanpa dikubur. Beberapa penduduk yang pernah melihat penampakan mengatakan bahwa hantu romusha sangat berbahaya dan kerap meminta tumbal. 

Setali tiga uang dengan zaman romusha, pada era 80-an di mana Petrus atau penembak misterius menakuti penduduk di Indonesia, banyak ditemukan korban meninggal di sini. Konon mereka adalah penjahat atau preman yang sengaja ditembak lalu dibuang begitu saja saat Pak Harto masih menjadi presiden dan berkuasa pada banyak hal di negeri ini. 

Dahulu kala sebelum kawasan ini dinamai Bukit Soeharto, ratusan pekerja membangun jalan lintas yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda kerap merasakan kejadian sial. Banyak dari mereka yang mengalami sakit akibat malaria atau penyakit kuning di dalam hutan. Selain penyakit itu, banyak dari mereka yang meninggal akibat kecelakaan yang tidak wajar. 

Beberapa tahun berselang, kawasan ini menjadi sangat angker. Di sore hari kerap muncul suara aneh yang mengerikan. Beberapa orang yang keluar sore hari kerap hilang dan akhirnya menjadi gila. Banyak yang bilang jika jiwa orang ini telah dibelokkan makhluk yang menghuni kawasan Bukit Soeharto. Oh ya, selain orang hilang kecelakaan maut kerap terjadi di sini dengan korban yang kadang hilang dan susah ditemukan. 

Inilah kisah-kisah yang menyelimuti Bukit Soeharto yang pernah menjadi andalan konservasi hutan di Indonesia. Jika saja pengelolaan hutan ini terus dilakukan, mungkin aneka flora dan fauna unik di sini tetap terjaga kelestariannya. 

Mitos Hantu Romusha di Bukit Soeharto yang Ada di Antara Ibu Kota Baru



datok99 - Sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara secara resmi ditetapkan sebagai ibu kota negara baru. Di antara dua kabupaten itu, terdapat taman hutan raya yang dijuluki Bukit Soeharto. Konon, di Bukit Soeharto, berseliweran mitos soal hantu romusha.  Agen Situs QQ 

Untuk diketahui, secara administratif Bukit Soeharto ditetapkan menjadi taman wisata alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 245/kpts-II/1987 tanggal 18 Agustus 1987 tentang Perubahan Fungsi Hutan Lindung Bukit Soeharto. Kawasan Hutan Bukit Soeharto luasnya +/- 41.050 ha, terletak di Dati II Kutai dan Kotamadya Dati II Samarinda dan Balikpapan Provinsi Dati I Kalimantan Timur.


Bukit Soeharto ini didominasi oleh beberapa jenis pohon, seperti akasia, sengon, johar, sungkai, dan mahoni. Di antara pohon-pohon inilah bersemayam mitos soal hantu Romusha. Mitos keangkeran hantu romusha ini muncul dari cerita mulut ke mulut. 

Dalam buku '666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia' yang dihimpun oleh Tim Pustaka Horor, Bukit Soeharto ini memang kental dengan cerita tentang hantu pekerja paksa Jepang atau yang dikenal dengan sebutan romusha.
Menurut buku tersebut, hantu romusha itu kerap mengganggu para pengunjung kawasan Bukit Soeharto. Gangguan hantu romusha yang paling parah adalah sampai menghilangkan orang tersebut.

Mereka yang diganggu hingga hilang biasanya sulit ditemukan lagi meski sudah dicari-cari. Jika pun ditemukan, orang itu akan jadi setengah gila. Konon, keangkeran Bukit Soeharto ini muncul karena dulunya tempat ini pernah menjadi tempat penyiksaan para romusha di bawah kekejaman tentara Jepang.

Sementara itu, dalam buku 'Hantupedia: Enskilopedia Hantu-Hantu Nusantara' yang disusun oleh tim Trio Hantu CS, hantu romusha ini kerap menampakkan diri sebagai rombongan romusha yang sedang mengangkat peti. Di belakang mereka, ada sosok tentara Jepang lengkap dengan senapan, topi, dan baju lorengnya.

Buku tersebut juga mencatat cerita dari seorang warga sekitar soal keangkeran Bukit Soeharto. Adalah Solikan yang mengaku pernah diganggu oleh hantu romusha. Saat itu, dia sedang bekerja membuat jalan di Bukit Soeharto. Tiba-tiba dia melihat rombongan orang yang membawa peti sembari ditodong senapan oleh tentara Jepang. Solikan menyadari bahwa sosok mereka seperti pekerja romusha. 

Dalam pengakuan Solikan, para romusha itu digiring ke sebuah tempat dan dipaksa menggali tanah. Ketika tanah sudah digali, peti-peti itu dimasukkan ke lubang galian. Para romusha itu didorong ke dalam lubang, kemudian diberondong peluru dan dilempari granat.
Solikan, yang mengaku melihat kekejaman itu, mendadak langsung pingsan. Keesokan harinya, Solikan ditemukan oleh rekan kerjanya.

Setelah kejadian menyeramkan tersebut, Solikan masih penasaran dengan lokasi lubang itu. Dia iseng mengeceknya dan ternyata di lokasi tersebut tidak ia temukan apa-apa. 
Namun, perlu dicatat, cerita-cerita seputar hantu romusha di Bukit Soeharto ini tak harus dipercaya. Cerita-cerita ini tak berarti mengandung kebenaran. Meskipun begitu, pada kenyataannya, cerita-cerita ini berkembang dan beredar di kalangan masyarakat sekitar.  

Sabtu, 02 Mei 2020

Batu Balian dan Legenda Dayak di Kalimantan Selatan


datok99 - Batu Balian di Desa Paau, Kalimantan Selatan, menjadi legenda penduduk sekitar menyoal pertempuran adu kuat ilmu antar suku Dayak. Agen Situs QQ 

Mungkin terasa asing di telinga masyarakat apabila mendengar Desa Paau, sebuah perkampungan di pedalaman Pegunungan Meratus yang hanya dihuni 600 jiwa penduduk dengan 172 kepala keluarga (KK). Desa ini terletak di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Tempat ini terisolir, jarang didatangi dan dikunjungi pendatang. Bahkan pemerintah daerah setempat tidak sering bertandang ke desa yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dengan bertani dan memanfaatkan hasil hutan itu.

Sebenarnya, Desa Paau bak mutiara terpendam di dasar laut, lantaran memiliki bentang alam yang dapat memukau para wisatawan yang berkunjung ke sini. Namun, aura mistis di sini sangat kuat, sisa-sisa peradaban suku Dayak pedalaman. 
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Penyaluhan Indah, Desa Paau, Kecamatan Aranio, Aspiani Alpawi menjelaskan terdapat beberapa objek wisata yang sudah dibuka untuk kunjungan wisatawan, seperti Puncak Gunung Haur Bunak, air terjun Mandin Penyaluhan Luar, dan air terjun Mandin Penyaluhan Dalam. 


Belum lagi ditambah dengan keindahan estetika susunan batu besar di aliran sungai berbatu yang disebut warga setempat sebagai Batu Balian.
“Kita kelola objek wisata Desa Paau adalah Puncak Gunung Haur Bunak dengan keindahan panorama pemandangan alam pegunungan dari ketinggian 1.129 Mdpl, kemudian air terjun,” tutur Aspiani kepada Tagar, Rabu, 25 September 2019.

Dia menilai, keindahan alam di desa ini masih berbalut mistis, yang secara turun-temurun dituturkan warga sekitar, serta orang-orang yang pernah datang ke tempat ini. 
“Di balik keindahannya, memang Puncak Gunung Haur Bunak dan Batu Balian terungkap cerita mistis dari setiap orang yang pernah kesana,” kata Aspiani.

Dia sempat mendengar cerita warga lokal yang pernah mengalami hal di luar nalar ketika berada di puncak Gunung Haur Bunak. 
Mereka menyaksikan bambu berdahan duri bergerak-gerak melambai agar orang tersesat ditelan hutan. Padahal, saat itu sedang tidak ada desir angin. Suasana sungguh sedang senyap-senyapnya.  
Mitosnya, dari situlah tempat ini mendapat sematan Gunung Haur Bunak. Haur artinya bambu dan bunak artinya berduri.

“Warga pernah mengalami hal gaib di atas gunung, melihat sebuah telaga atau kolam berdinding beton yang sekelilingnya ditumbuhi haur bebunak, seperti hidup melambai-lambai seakan memanggil orang yang melihatnya,” tuturnya. 
Konon, menurut kepercayaan warga sekitar, sebelum masuknya ajaran Islam, Desa Paau menjadi perkampungan suku Dayak pedalaman Pegunungan Meratus yang menganut kepercayaan animisme dengan menyembah pohon dan memuja-muja roh halus dan roh leluhur.

Dalam kurun waktu tertentu, masih diadakan acara Adat Balian dengan ritual Batandik atau tarian khusus memanggil roh gaib. Penari dalam ritual tersebut akan kerasukan roh halus. 
Aspiani menuturkan, lokasi Batu Balian dikeramatkan dan dianggap tempat sakral secara turun temurun. 
Tempat tersebut dianggap pintu gerbang untuk menembus dimensi lain, menjadi alat komunikasi antar suku Dayak yang tersebar di daerah lain. Bahkan, lokasi ini diyakini masyarakat sekitar menjadi ajang beradu sakti antara suku Dayak.

Yang kalah, kata Aspiani, dikutuk menjadi Batu Balian. Hal tersebut menjadi legenda penduduk setempat.
“Batu Balian merupakan sebuah legenda cerita rakyat yang diceritakan secara turun-temurun sejak orang tua dulu. Jadi batu-batu tersebut dari kepercayaan orang tua dulu adalah manusia suku Dayak yang kemudian berubah menjadi batu,” katanya. 

Nasrullah, salah satu mantan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) universitas di Banjarmasin yang sempat mendaki Gunung Haur Bunak pada tahun 2000 silam mengatakan, jangan kan menaklukkan gunung ini, untuk bisa sampai ke Desa Paau saja tergolong tidak mudah.
Selain keberadaannya cukup jauh dari pusat kota, jalan yang dilalui juga sangat menguji adrenalin. Pengunjung, menurutnya, tidak boleh mengesampingkan mistis yang menyelimuti kawasan tersebut.  

Pria berkacamata ini menceritakan, saat berada di Desa Paau, dia sempat mengelilingi semua objek wisata di sana selama delapan hari, termasuk ke Batu Balian, air terjun Mandin Panyaluhan Luar dan Mandin Penyaluhan Dalam yang menyajikan keindahan tebing batu setinggi 40 meter yang mengucurkan air tiada henti.

Setelah dibujuk, pehobi hiking ini akhirnya bersedia menceritakan pengalaman mistisnya saat mendaki Gunung Haur Bunak tahun 2000 silam. 
Di tengah hutan rimba, dia menyaksikan ada seorang pria tua sedang memancing, di sekelilingnya tumbuhan bergerak-gerak tanpa tiupan angin. Namun lelaki baya itu diam saja, tidak menengok dan mengacuhkan pendatang.

“Saya sempat melihat kejadian aneh seperti yang diceritakan warga sekitar. Sebuah telaga atau kolam kecil berukuran sekitar tiga meter dengan ditumbuhi haur bebunak atau bambu berduri melambai-lambai," kata dia. 
"Lebih aneh lagi, saya lihat ada seorang kakek-kakek dengan topi berbahan purun sedang duduk di tepi telaga sambil mengarahkan kail pancing kedalam air tenang di telaga,” lanjutnya.

Bersama 22 rekannya, Nasrullah kompak mengambil langkah seribu. Karena hal tersebut mereka mencari lokasi lain untuk mendirikan tenda. Dia tidak jadi kamping di dekat mata air.
Menjelang senja, saat matahari nyaris tenggelam, lanjutnya, terdengar suara macan yang mengaum sangat keras. Lagi-lagi hal ini membuat mereka kocar-kacir berlarian masuk semua ke dalam tenda.

“Saat itu ada suara macan, semuanya takut akhirnya berlarian berkumpul di satu tenda,” tuturnya. 
Kepala Bidang Destinasi dan Pengembangan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar Faizal Riza Kasransyah menerangkan, objek wisata di Desa Paau saat ini sudah ditetapkan menjadi destinasi wisata di Kabupaten Banjar, Kalsel.

“Sudah masuk sebagai destinasi wisata baru untuk dikunjungi. Di sana juga sudah kita bentuk Pokdarwis yang bisa mendampingi wisatawan saat mengunjungi objek wisata Desa Paau. Jadi, wisatawan bisa lebih nyaman dan aman berwisata di sana,” kata dia.
Faizal, sapaan akrabnya, menjelaskan rute perjalanan untuk dapat tiba ke Desa Paau. Dari Kota Martapura, perjalanan harus mengarah ke dermaga pelabuhan kapal motor di waduk PLTA Riam Kanan di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio.

"Memerlukan waktu paling cepat 30 menit," ucapnya.
Setelah bernegosiasi dan sepakat soal tarif jasa kapal motor untuk ditumpangi menuju desa Paau, kata Faizal, diperlukan lagi waktu lebih dari satu jam hingga kapal motor bersandar di dermaga Desa Paau.
Setelah itu perjalanan menantang adrenalin penuh perjuangan baru dimulai. Dari Desa Paau memulai petualangan mendatangi objek wisata terdekat yakni Batu Balian yang dapat disusuri dengan berjalan kaki sekitar 40 menit.

Sementara untuk mendatangi objek wisata air terjun Mandin Penyaluhan Luar dan Mandin Penyaluhan Dalam dibutuhkan jalan kaki empat jam jalan kaki. 
Sedangkan untuk mendaki Gunung Haur Bunak hingga mencapai puncak, terlebih dulu harus mencapai camp berawan. 
"Perlu waktu cukup lama, dari pagi hingga sore hari. Dari camp berawan, perjalanan mendaki kembali memerlukan waktu lebih dari 3 jam," ujarnya. []


Pengalaman Misterius dan Tidak Masuk Akal yang Betulan Kejadian Selama Tinggal di Kalimantan


datok99 - Di Kalimantan, gue ngeliat banyak hal misterius dan nggak masuk akal mulai dari bola api, kuyang, sampai kirim-kiriman santet yang betulan kejadian di sana.  Agen Situs QQ 

Jadi keluarga gue pindah ke Kalimantan tahun 95/94 kalo ga salah. Dari Jakarta, pindah ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Waktu itu, pertama liat dari pesawat, nangis duluan karena hutan semua :))
Gue sampe mikir “lah tinggal di Hutan?” Pas mendarat di Syamsudin Noor eh ternyata ada kota nya. Dari bandara langsung ke Banjarbaru, ditunjukin tempat tinggal yang baru, di komplek Listrik II depan museum Lambung Mangkurat. And…

…I instantly fall in love with this city, Banjarbaru. Dulu tenang banget kotanya, hijau banget. Panas tapi adem. Kota kecil sih tapi cantik, sepi ga terlalu rame. Kemana-mana deket, ke pasar naik taksi (ini sebutan untuk angkot) cuma sebentar terus pulangnya naik becak deh lewat jalan belakang yang adem banget. Dan selama tinggal di sini juga gue tau bahwa ada banyak hal yang ga gue ketahui sebelumnya di Jakarta. 


Tapi yang selalu ada di hati adalah orangnya ramah-ramah semua. Makanya gue suka bingung kalo ada yang takut sama orang kalimantan, padahal mereka ramah loh. Ya selama kagak ngusik dan gangguin juga semua orang ramah kok. Tergantung sikap kita ke orang juga kan.
Selain itu, makanan di Kalimantan ini enak-enaaak. Soto banjar, ketupat kandangan yang makannya pake tangan ga pake sendok garpu, ayam bakar yang merah itu, bingka kentang ya Tuhan ku rindu. Eh OOT sedikit, Pasar Wadai kalo bulan puasa masih ada ga sih? Dulu sering banget tuh di deket kolem renang diadainnya.


Hal misterius pertama yang gue notice ketika tinggal di kalimantan adalah sering ada bola api terbang seliweran kalo malem…
Dulu kebiasaan keluarga adalah abis makan malam kita ngumpul di teras sambil ngobrol. Sampe kakak yang pertama kali liat “itu apaan terbang?” Setelah sadar itu bola api, Kita semua langsung ngacir masuk rumah.
Besokannya temennya kakak cerita kalo bola api itu ada artinya karena ada bola api ekor pendek dan ekor panjang. Lupa jelasnya gimana pokoknya ada yang lagi ngirim santet/teluh, ada kuyang yang ilmunya udah hebat banget berupa bola api kalo terbang. Dan tidak boleh nunjuk kalo liat bola api.

Jadi yaudah kita semua sekeluarga kalo liat bola api lewat di langit misalkan lagi duduk di depan jadi biasa aja dan ga ada yang berani nunjuk. Takut kan tar tahu-tahu nyamperin ngerasa dipanggil :))
Hal misterius kedua, Kuyang tuh beneran ada! yang pernah liat Alm bokap dan anak buahnya. Itu kejadiannya anak buahnya lagi datang berkunjung terus pamit pulang ke Barabai, Alm bokap nyuruh nginep di rumah takutnya di jalan kenapa-kenapa karena udah kemaleman. Pas lagi ngobrol di belakang, mereka denger suara di selokan.

Anak buahnya bilang kalo itu Kuyang dan minta Alm bokap untuk masuk ke dalam rumah, ga tau gimana ceritanya tahu-tahu kuyangnya lewat terbang :)) Bokap gue lari ngejengkang karena keserimpet sarung. Sampe heboh dah rumah.
Besokannya anak buah bokap cerita kalo kuyang minumnya air comberan dan ciri-ciri orang yang punya ilmu itu di lehernya ada garis hitam dan kalo siang selalu pake syal untuk nutupin garis di leher. Biasanya ngilmu kuyang gitu biar awet muda, yah lumayan daripada skincarean :’)

Ada lagi di depan komplek, di jalan raya utama ada kecelakaan. Dulu tuh truk batubara sering lewat jalan utama ga tau deh sekarang masih ga? Jadi ada kecelakaan motor sama truk batubara, motornya kelindes dan korbannya udah ga berbentuk karena ikut kelindes juga. Pas mau dicek itu korbannya yang udah ga berbentuk itu langsung bangun dan cekik entah si supir atau orang yg mau nolongin, sampe heboh orang-orang di situ yang ngeliat, orang-orang komplek pada ke luar karena berisik banget dan kedengeran soalnya. Kakak gue sama Alm bokap juga ke luar ngeliat. Balik kerumah, kakak gue muntah-muntah. Ya mungkin karena ga pernah liat yang kayak gitu sebelumnya ya. 

Adalagi kejadian di dalem komplek, ada dua pemuda berantem tapi bukan orang komplek sih kayanya cuma lewat doang soalnya dulu komplek gue ada jalan tembusan ke belakang duh lupa daerah apa gitu. Mereka berantem dan salah satu ditusuk itu sampe terburai isi perut apa ususnya gitu tapi masih bisa jalan dong dengan gagah dan ga kesakitan atau gimana-gimana… Akhirnya ditolongin sama RT apa RW gitu, Udah lupa shaaay.

Tapi yang pada akhirnya menganggu keluarga adalah hehehe kakak gue kena nih di ‘kunci’ sama mantan pacarnya. Mungkin sakit hati ya, kakak gue galak soalnya.
Kakak gue dibikin keliatan seperti laki-laki padahal dia perempuan. Itu pun ketahuannya karena feeling orang tua, kaya ada yang ga beres dan hawanya ga enak. Akhirnya Alm bokap minta bantuan ke bapak angkatnya yang juga salah satu tetua adat suku dayak pedalaman. Ternyata benar kena dikunci, sampe adu ilmu, pusing gue yang masih kecil ketika itchu :)))

Pernah tiba-tiba ada kecoa masuk entah darimana pdahal kamar kakak gue yang cewek ketutup, akhirnya sama kakak gue yang cowo diambil terus dibakar sedikit sungutnya yang sebelah kanan. Soalnya dia inget kata kakek (ayah angkatnya bokap gue yang tetua dayak) kalo serangga yang aneh, bakar aja sebelah sungutnya.

Besokannya dapet kabar dari temen kampusnya kakak gue kalo kumis mantannya kakak gue yang cewek kebakar setengah tiba-tiba :))) Ya percaya ga percaya sih tapi kejadian. Akhirnya dengan dibantu dayak pedalaman terjadilah malam perang ilmu di rumah gue, berisik banget karena kaya bunyi dentuman. Dari sore anak buah kakek yang org dayak udah ngumpul. Kakak gue yang cewek cuma bisa nangis, but we’re lucky mereka membantu dan ngelindungin kami malam itu ❤️

Ilmunya dikirim dari pedalaman kandangan ke rumah gue. Di rumah gue udah siap-siap dari dayak pedalaman mana ya gue lupa dah, itu sama mereka dikirim balik. Itu sampe jam 4 pagi. Sampe capek banget nyokap bokap sama kakak-kakak gue. Gue mah udah tidur dijagain juga. Semenjak itu, kakak-kakak gue dikirim balik ke Jakarta sama emak bapak gue. Karena takut bikin heboh lagi karena pas malam itu beberapa tetangga juga ikut nemenin ngeronda ngejagain bisi kenapa-kenapa. Jadilah gue ama emak bapak gue doang di Kalimantan.

Pernah suatu hari gue, bokap sama nyokap jalan kaki pulang dari restoran ke rumah. Kebetulan nyokap buka restoran depan SMP 2 banjarbaru dulu taun 97an. Karena ga terlalu jauh dan abis sidak ke restauran jadi kita jalan kaki nih dan itu lepas maghrib. Passs kita jalan, tiba-tiba nyokap gue langsung narik tangan gue terus nyuruh cepetan jalan ke bokap ama gue. Bokap gue kayak udah curiga nih. Akhirnya kita jalan cepet semua.

Pas sampe jalan raya yang udah agak rame, nyokap nengok-nengok ke belakang sambil bilang “alhamdulillah”. Gue inget bokap bilang “mah, bukannya itu yang tadi…” Emak gue ngomel, “udah tar aja di rumah, nyebrang dulu!” Akhirnya kita bertiga nyebrang karena komplek ada di seberang. 
Pas sampe rumah gue baru tahu kalo emak bapak gue ngeliat ibu-ibu gendong bayi di depan salah satu rumah yang kita lewatin dan posisinya rumah itu kosong juga istri yang punya rumah itu baru meninggal. Meninggal sama bayinya pas melahirkan. Pantesan emak sama bapak gue langsung pucet mukanya :))

Sementara di Jakarta. Kakak gue yang cewek nelpon dari Jakarta ke Banjarbaru sore-sore, laporan kalo kakak gue yang laki ada di kantor polisi, bokap gue udah kaget ini anak bikin kasus tapi ternyata engga, kakak gue yang cowo korban penculikkan dan habis babak belur dipukulin mau dibunuh. Perkara yang sederhana: hanya gara2 cewe 😂😂😂

Cewenya kakak gue ga taunya punya pacar lagi nah si pacar satunya ini yang inisiatif bawa orang buat nyulik, ngegebukin dan hampir mau bunuh kakak gue dengan cara ditusuk di mobil. Itu kejadiannya di depan rumah gue di Daerah pramuka. Tapi pas mau ditusuk, pisonya mental :)) Kakak gue ditusuk berkali-kali (menurut keterangan dia di kantor polisi) dan pisonya mental berkali-kali sampe akhirnya bengkok. Akhirnya dia pecahin kaca mobil terus teriak, kebetulan ada tetangga gue jadi ditolongin dan orang-orang yang mau nyulik dikeroyok warga.

Bokap gue marah dan emosi ngedengernya, langsung ortunya itu cewe ditelpon ama bapak. “Gara-gara anak Anda, anak laki-laki saya satu-satunya hampir dibunuh! Kalau anak saya mati, ingat 7 turunan kalian saya bunuh semua! Jangan harap kalian bisa lepas dari saya.” Emak gue udah teriak-teriak marah juga. Gue diem aja.

Ga lama bokap minta om gue yang di jakarta buat ngurusin di kantor polisi. Di banjarbaru emak nahan bokap karena bokap udah nekat mau minta bantuan umh you know lah :))
Emak gue nahan, tetangga juga bilang jangan. Emang pas kejadian itu tetangga pada tahu karena bokap ngamuk. Ga lama diterbangin balik lagi kakak-kakak gue ke Banjarbaru.
Pas nyampe kakak gue emang bonyok. Tapi yang kami semua heran, dia ga ngerasa sakit sama sekali walaupun bonyok, dan kakak gue yang cewek juga bilang piso barang bukti penusukan juga emang bener bengkok dong :)))

Kakak gue juga bilang ga berasa apa-apa, akhirnya bokap nanya kakak gue ngilmu apa gimana? Dia jawab engga sama sekali. Ternyata mantannya kakak gue yang orang asli Kalimantan ngirim “penjaga” pas dulu kakak gue pamitan pulang ke Jakarta. Tahunya dari? Kakek, bapak angkatnya bokap gue di Kalimantan itu tadi. Beliau ngeliat kakak gue dijagain makanya ga mempan ditusuk dan ga berasa pas digebukin walaupun bonyok. 

Untungnya yang jaga memang pure menjaga, ga ada maksud jelek karena mantannya kakak gue takut kakak gue kenapa-napa makanya dikirim yang jaga. Udah punya feeling mereun ya kakak gue bakal kenapa-napa :))
5 tahun gue tinggal di sana sampe 1999 harus balik ke Jakarta karena bokap dipanggil balik ke Jakarta. Hari pindahan ke Jakarta, banyak banget yang nganterin kami ke bandara dari tetangga, rekan kerja, kawan dll. Semua nangis-nangisan, that’s why I love Borneo so much. Banyak kenangan ❤️